Sekilas Mengenai Properti di Bali

Sebagai salah satu tujuan pelancong di dunia membuat Bali menjadi tempat yang menarik untuk berinvestasi, termasuk investasi properti. Dengan melimpahnya wisatawan yang datang ke Bali, maka ada sedikit perbedaan pendekatan investasi properti di Bali jika dibandingkan dengan daerah lain seperti Jakarta misalnya. Di Jakarta, tren tempat tinggal adalah hunian vertikal yang bisa kita beli. Namun di Bali, saat ini cukup sulit untuk mencari apartemen yang bisa kita beli. Kebanyakan properti yang ditawarkan adalah berupa kondotel (kondominium hotel) yang bisa kita sewa selama jangka waktu tertentu, biasanya lebih dari 20 tahun. Memang setelah itu masih bisa diperpanjang, tapi kita tetap tidak akan bisa memiliki kondotel tersebut.

Umumnya kondotel dikelola oleh suatu manajemen hotel tertentu, biasanya mereka menyewakan kembali kondotel tersebut ke wisatawan dan kita memperoleh pembagian keuntungan dari uang sewanya. Untuk menambah daya tarik, biasanya ditawarkan kepada pembeli free stay selama 20 – 30 hari setahun untuk bisa menginap di kondotel tersebut. Namun dengan furniture berkualitas, fasilitas lengkap dan manajemen yang dikelola oleh hotel membuat harga kondotel menjadi cukup mahal.

Selain kondotel, tentu membeli rumah di Bali juga dapat dijadikan pilihan. Namun permasalahannya adalah saat ini di Bali tidak banyak developer yang membuat kompleks perumahan dalam skala besar. Saat ini jumlah perumahan berskala besar di Bali bisa dihitung dengan jari, masih sangat sedikit. Kebanyakan developer memilih untuk membangun town house yang hanya terdiri dari sekitar 10 – 20 rumah. Dengan hanya membangun sedikit rumah, tentu tidak banyak fasilitas yang bisa didapat.

Faktor lainnya adalah lokasi. Seperti umum diketahui pembangunan di Bali selatan jauh lebih pesat dibandingkan Bali utara. Hal ini membuat perbedaan yang cukup signifikan terhadap harga properti di utara dan selatan. Sebagai perbandingan harga rata-rata sebuah rumah tipe 50 dengan tanah seluas 1 are di Bali selatan sudah hampir mencapai harga 1 miliar, untuk ukuran yang sama di Bali utara kita masih bisa menemukan rumah seharga 400 jutaan. Kita mungkin bisa saja memilih untuk membeli rumah di Bali utara, namun apakah kita bersedia setiap hari menempuh perjalanan setidaknya 40 km (pulang pergi) menuju kantor yang kebanyakan berlokasi di Bali selatan?

Jika sudah demikian, apakah mengontrak rumah atau tetap ngekos menjadi pilihan terbaik?  Hmm..saat ini sepertinya begitu adanya, namun marilah kita menabung! 😀

Advertisements

perfeksionis (per.fek.si.o.nis) /pérféksionis

Hampir 30 menit lepas dari pukul 12 malam. Tengah malam sendirian di tempat kos yang baru, di tengah-tengah proses akhir penyusunan disertasi (= thesis kalo di Indonesia), tiba-tiba saja ingin menulis tentang satu kata sifat yang seakan melekat dan tak bisa lepas dari diri saya, “perfeksionis”.

Saya coba bandingkan pengertian perfeksionis dari beberapa sumber yangberhasil saya dapatkan.

  • Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefiniskan pefeksionis sebagai:

1. orang yang ingin segala-galanya sempurna; (nomina)

2. orang yang percaya bahwa kesempurnaan moral dicapai kalau dapat hidup tanpa dosa: (nomina)

  • Penjelasan Wikipedia mengenai perfeksionis:

Perfectionists have also been described as those who strain compulsively and unceasingly toward unobtainable goals, and who measure their self-worth with their productivity and accomplishment.

  • Wikipedia Indonesia mendefinisikan perfeksionis sebagai:

Orang yang memiliki pandangan bahwa dia harus menjadi sempurna, mencapai kondisi terbaik pada aspek fisik maupun non-materi.

Segala sesuatu di dunia ini memang tidak ada yang sempurna, demikian pula dengan perfeksionis. Banyak sisi positifnya, namun tak sedikit pula sisi negatifnya, bahkan ada yang berpandangan bahwa perfeksionis adalah suatu penyakit!

Beberapa sisi positif yang kita bisa lihat dari seorang perfeksionis menurut pendapat saya adalah:

  • (S)He is a great achiever. Dengan sifat perfeksionis yang dia punya, dia bakal mewujudkan apapun cita-citanya sekuat tenaga___*This is very good point indeed
  • Teliti. Seorang perfeksionis cenderung bersifat teliti, karena dia harus memastikan segala sesuatunya dengan sempurna___*Yang ini tampaknya bisa diperdebatkan, karena teliti itu cenderung bersikap hati-hati, dan tidak semua sikap hati-hati itu baik, karena kadang terlalu hati-hati bisa memperlambat sesuatu
  • Cenderung tidak pernah puas akan sesuatu. Sifat perfeksionis akan membuat dia terus menerus mencari kesempurnaan, sehingga saat satu hal berhasil dia raih, dia akan kembali berusaha meraih hal lain yang lebih baik___*Betul sekali
  • Dst…

Namun, beberapa sisi negatif dari sifat perfeksionis ini menurut pendapat saya diantaranya:

  • Karena terlalu teliti, kesannya menjadi lambat, imbasnya produktifitas menjadi turun sehingga cenderung orang berpendapat bahwa dia memang tidak cakap dalam melakukan pekerjaan tersebut___*Padahal kualitasnya mungkin bagus, cuman kuantitasnya aja yang agak kurang
  • Stres saat dia tidak bisa mewujudkan segala sesuatunya dengan sempurna. Karena dia ingin segala sesuatunya sempurna, maka pada saat dia gagal, dia kecewa, marah, sedih dan ujung-ujungnya stres. ___*Sisi negatif yang ini bisa agak dikurangi impact-nya jika dia punya dasar agama yang cukup baik
  • Dst…

Well, Yang Maha Segalanya telah menciptakan manusia dengan berbagai sifat dan karakter-nya yang notabene punya sisi positif dan negatif. Apapun karakter kita, cobalah untuk terus memperbaiki diri.

“I’m never pleased with anything, I’m a perfectionist, it’s part of who I am” (Michael Jackson)

w.a.n.i.t.a

Tepat di penghujung Mei 2012, tepat sehari sebelum argometer disertasi (= tesis kalo di Indonesia) berputar, pikiran ini menerawang kepada satu kata…”wanita”. Hmm..mungkin karena beberapa hal yang saya alami akhir-akhir ini, saya mencoba memahami pola pikir makhluk Allah yang satu ini, yang banyak orang bilang merupakan makhluk ciptaan Allah yang terindah, atau juga ada yang bilang bahwa wanita diciptakan untuk melengkapi pria, bahkan seorang teman mengatakan bahwa wanita membuat kacau dunia tapi kalo tidak ada wanita maka dunia akan lebih kacau lagi 😀

Well..intinya memang wanita diciptakan agar saling melengkapi dengan pria dalam mencapai kebahagiaan di dunia ini. Ya, saling melengkapi tersebut diejawantahkan dalam suatu ikatan bernama pernikahan. Setelah menikah seorang wanita akan mendapat tambahan status yakni menjadi seorang istri. Demikian hal-nya pria yang akan mendapat tambahan status menjadi seorang suami. Tentu penambahan status ini menuntut tanggung jawab yang besar dari kedua belah pihak.

Sebuah rumah tangga dipimpin oleh seorang suami. Tanggung jawab sang suami sangat besar dalam menjadi imam dalam rumah tangga. Seorang suami harus mampu mengayomi, membimbing dan melindungi sang istri agar rumah tangga mereka menjadi rumah tangga yang damai, tentram, penuh cinta, kasih sayang dan rahmat dari Allah SWT. Namun usaha suami tentu saja tidak cukup tanpa ada andil dari sang istri, sang istri harus mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama untuk juga membentuk rumah tangga yang sakinah, mawadah warrahmah.

Ada beberapa kisah menarik tentang para istri yang agak “janggal” dari sudut pandang saya sebagai seorang pria. Tentu saja kisah ini bukan bermaksud mendiskreditkan para wanita, namun seperti kita maklumi, pria dan wanita memang memiliki logika berpikir, emosi dan sudut pandang yang berbeda.

Saya pernah mengetahui sebuah kisah satu rumah tangga dimana awalnya suami dan istri saling mencintai. Namun seiring dengan berjalannya waktu, cinta sang suami kepada istrinya semakin besar, namun cinta sang istri kepada suaminya semakin pudar. Pada saat sang suami bertanya kepada sang istri apakah ada yang salah darinya sehingga cinta istrinya semakin pudar. Sang istri pun menjawab bahwa suaminya sangat sempurna dimatanya, namun hanya keegoisan istrinya-lah yang membuat cinta sang istri semakin pudar.

Kisah yang menarik untuk disimak tentunya, karena justru saat suaminya sempurna dimata istrinya, saat cinta suaminya semakin besar, maka cinta istrinya semakin pudar. Pertanyaanya adalah, apakah cinta sang suami kepada istrinya harus semakin memudar agar cinta sang istri kepada suaminya semakin besar??

Memang ada anomali yang terjadi pada sang istri dalam kisah tersebut, sang istri malah meminta suaminya agar tidak terlalu mencintainya agar cinta sang istri tumbuh kembali. Hmmm..logika yang agak aneh. Bukankah setiap orang ingin dicintai?? Karena “mencintai” dan “dicintai” adalah sama pentingnya layaknya sayap bagian kanan dan sayap bagian kiri pada seekor burung.

Ada kisah lain yang juga pernah saya ketahui. Satu pasangan suami istri awalnya menikah hanya karena sang istri merasa “kasihan” kepada sang suami. Saat itu tidak ada rasa cinta pada sang istri, namun sang istri memilihnya untuk menjadi suami karena sang suami tersebut telah begitu baik kepadanya dan perjuangannya sangat keras untuk mendapatkan dirinya.

Seiring berjalannya waktu, setelah menikah sang suami menyadari bahwa sang istri bukanlah pribadi yang dia inginkan untuk dijadikan istri. Namun dia berusaha untuk terus mencintainya dan mempertahankan rumah tangga mereka. Namun disisi lain, sang istri tetap tidak mencintai suaminya walaupun suaminya adalah seorang pria yang bertanggung jawab dan sukses secara materi. Sejak awal menikah, sang istri memang tidak pernah mencintai suaminya.

Pertanyaannya adalah kalau tidak mencintai suaminya, mengapa sang istri mau menikah dengannya?? Menikah bukanlah suatu hal yang bisa dicoba-coba dengan berfikir bahwa suatu hari aku akan bisa mencintainya. Hmmm..suatu sikap yang juga sulit dipahami dari seorang istri.

Kisah diatas merupakan beberapa kisah yang terjadi di rumah tangga. Namun hendaknya suami dan istri selalu saling menjaga kasih sayang diantara mereka dengan berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi pasangan masing-masing, saling mencintai dan saling mengingatkan karena Allah. Berusahalah selalu untuk memperbaiki diri, dekatkan diri kepada Allah SWT, dan yakinlah bahwa pasangan kita adalah yang terbaik untuk kita, untuk kebahagiaan kita di dunia dan akhirat.

Buat istriku, I love u.. ^_^

*Ditulis oleh seorang pria kesepian yang tiba-tiba saja ingin menulis tentang wanita, pada pukul 23.58 GMT di sudut sebuah kamar kecil di Cheltenham 😀

Image Credit: http://www.facebook.com/MyExceptionalLiving