The Last Dance

Remaja dan anak muda saat ini tidak bisa dilepaskan dengan gadget, tapi bagi saya yang menghabiskan kebanyakan masa muda di tahun 90-an, di masa itu belum ada gadget, smartphone, dan semacamnya. Saat itu punya walkman sudah dianggap keren, pake jaket grifone terlihat up to date, kemeja flanel jadi trend, main game console pun didominasi oleh Nintendo NES dan SEGA.

Dan bagi saya dan siapapun penggemar basket NBA, tahun 90-an tidak bisa dilepaskan dari dominasi Chicago Bulls. Dimotori Michael Jordan, Bulls mendominasi NBA pada dekade 90-an dengan menjadi juara 6 kali, luar biasa!

Dan tahun ini, saya menjadi salah seorang yang sangat berbahagia saat ESPN bekerja sama dengan Netflix membuat 10 episode TV series dokumenter bertajuk The Last Dance, yang mainly menceritakan secara cukup seru perjuangan Chicago Bulls untuk menjadi juara NBA yang ke-6 di season 1997-1998.

Yang juga menarik adalah plot series ini yang maju-mundur, jadinya kita dibawa untuk melihat secara lebih detail masa kecil Michael Jordan dan bagaimana dia dibesarkan oleh orang tuanya, darimana sifat kompetitif Jordan muncul. Kita juga jadi tau kisah Scottie Pippen, Dennis Rodman dan lainnya. Juga konflik yang terjadi antara Scottie Pippen dan Jerry Krause misalnya, atau antara Phil Jackson dan Jerry Krause, atau kenapa Michael Jordan tidak suka dengan sikap Isiah Thomas, dan kenapa awalnya Toni Kukoc tidak begitu diterima oleh Jordan dan Pippen saat pertama bergabung dengan Bulls. Banyak intrik internal yang membuka mata kita, bahwa dibalik keberhasilan Bulls dan ke-mega bintang-an Air Jordan, banyak intrik dan konflik yang terjadi.

Munculnya nama-nama lain macam Horace Grant, John Paxson, Steve Kerr, Magic Johnson, Isiah Thomas, Phil Jackson dan yang lainnya di series ini juga membuatnya menjadi lebih kaya. Meskipun tokoh sentral di series ini tak lain dan tak bukan adalah siapa lagi kalo bukan Michael Jordan.

Series ini banyak membawa kenangan saya ke masa lalu, saat lumayan sering main basket terutama saat kuliah saat saya selalu menempatkan diri menjadi Toni Kukoc 😀

Walaupun saya kagum dengan pencapaian Michael Jordan dan Chicago Bulls di dekade 90-an, hal itu tidak mampu merebut hati saya untuk berpaling dari Alonzo Mourning sebagai pemain NBA pertama yang menjadi idola masa kecil 🙂

Image credits:

  • nba.com
  • si.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s