w.a.n.i.t.a

Tepat di penghujung Mei 2012, tepat sehari sebelum argometer disertasi (= tesis kalo di Indonesia) berputar, pikiran ini menerawang kepada satu kata…”wanita”. Hmm..mungkin karena beberapa hal yang saya alami akhir-akhir ini, saya mencoba memahami pola pikir makhluk Allah yang satu ini, yang banyak orang bilang merupakan makhluk ciptaan Allah yang terindah, atau juga ada yang bilang bahwa wanita diciptakan untuk melengkapi pria, bahkan seorang teman mengatakan bahwa wanita membuat kacau dunia tapi kalo tidak ada wanita maka dunia akan lebih kacau lagi 😀

Well..intinya memang wanita diciptakan agar saling melengkapi dengan pria dalam mencapai kebahagiaan di dunia ini. Ya, saling melengkapi tersebut diejawantahkan dalam suatu ikatan bernama pernikahan. Setelah menikah seorang wanita akan mendapat tambahan status yakni menjadi seorang istri. Demikian hal-nya pria yang akan mendapat tambahan status menjadi seorang suami. Tentu penambahan status ini menuntut tanggung jawab yang besar dari kedua belah pihak.

Sebuah rumah tangga dipimpin oleh seorang suami. Tanggung jawab sang suami sangat besar dalam menjadi imam dalam rumah tangga. Seorang suami harus mampu mengayomi, membimbing dan melindungi sang istri agar rumah tangga mereka menjadi rumah tangga yang damai, tentram, penuh cinta, kasih sayang dan rahmat dari Allah SWT. Namun usaha suami tentu saja tidak cukup tanpa ada andil dari sang istri, sang istri harus mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama untuk juga membentuk rumah tangga yang sakinah, mawadah warrahmah.

Ada beberapa kisah menarik tentang para istri yang agak “janggal” dari sudut pandang saya sebagai seorang pria. Tentu saja kisah ini bukan bermaksud mendiskreditkan para wanita, namun seperti kita maklumi, pria dan wanita memang memiliki logika berpikir, emosi dan sudut pandang yang berbeda.

Saya pernah mengetahui sebuah kisah satu rumah tangga dimana awalnya suami dan istri saling mencintai. Namun seiring dengan berjalannya waktu, cinta sang suami kepada istrinya semakin besar, namun cinta sang istri kepada suaminya semakin pudar. Pada saat sang suami bertanya kepada sang istri apakah ada yang salah darinya sehingga cinta istrinya semakin pudar. Sang istri pun menjawab bahwa suaminya sangat sempurna dimatanya, namun hanya keegoisan istrinya-lah yang membuat cinta sang istri semakin pudar.

Kisah yang menarik untuk disimak tentunya, karena justru saat suaminya sempurna dimata istrinya, saat cinta suaminya semakin besar, maka cinta istrinya semakin pudar. Pertanyaanya adalah, apakah cinta sang suami kepada istrinya harus semakin memudar agar cinta sang istri kepada suaminya semakin besar??

Memang ada anomali yang terjadi pada sang istri dalam kisah tersebut, sang istri malah meminta suaminya agar tidak terlalu mencintainya agar cinta sang istri tumbuh kembali. Hmmm..logika yang agak aneh. Bukankah setiap orang ingin dicintai?? Karena “mencintai” dan “dicintai” adalah sama pentingnya layaknya sayap bagian kanan dan sayap bagian kiri pada seekor burung.

Ada kisah lain yang juga pernah saya ketahui. Satu pasangan suami istri awalnya menikah hanya karena sang istri merasa “kasihan” kepada sang suami. Saat itu tidak ada rasa cinta pada sang istri, namun sang istri memilihnya untuk menjadi suami karena sang suami tersebut telah begitu baik kepadanya dan perjuangannya sangat keras untuk mendapatkan dirinya.

Seiring berjalannya waktu, setelah menikah sang suami menyadari bahwa sang istri bukanlah pribadi yang dia inginkan untuk dijadikan istri. Namun dia berusaha untuk terus mencintainya dan mempertahankan rumah tangga mereka. Namun disisi lain, sang istri tetap tidak mencintai suaminya walaupun suaminya adalah seorang pria yang bertanggung jawab dan sukses secara materi. Sejak awal menikah, sang istri memang tidak pernah mencintai suaminya.

Pertanyaannya adalah kalau tidak mencintai suaminya, mengapa sang istri mau menikah dengannya?? Menikah bukanlah suatu hal yang bisa dicoba-coba dengan berfikir bahwa suatu hari aku akan bisa mencintainya. Hmmm..suatu sikap yang juga sulit dipahami dari seorang istri.

Kisah diatas merupakan beberapa kisah yang terjadi di rumah tangga. Namun hendaknya suami dan istri selalu saling menjaga kasih sayang diantara mereka dengan berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi pasangan masing-masing, saling mencintai dan saling mengingatkan karena Allah. Berusahalah selalu untuk memperbaiki diri, dekatkan diri kepada Allah SWT, dan yakinlah bahwa pasangan kita adalah yang terbaik untuk kita, untuk kebahagiaan kita di dunia dan akhirat.

Buat istriku, I love u.. ^_^

*Ditulis oleh seorang pria kesepian yang tiba-tiba saja ingin menulis tentang wanita, pada pukul 23.58 GMT di sudut sebuah kamar kecil di Cheltenham 😀

Image Credit: http://www.facebook.com/MyExceptionalLiving

Advertisements